(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 1)
Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar; Muqoddimah.
Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar kitab karangan syekh Romadhon al-Buthi, yang membahas tentang perkara-perkara akidah khususnya tentang hubungan vertikal antara hamba dan Tuhannya Allah SWT. Karena tidak benar makna keimanan seseorang tanpa mengetahuinya.
Kitab ini sebagai jawaban dari perdebatan panjang yang ada semenjak akhir jaman shahabat hingga sampai saat ini, masalah di perjalankan (مسير) atau pilihan (مخير) yang mempunyai ikatan dengan masalah Qodo dan Qodar.
Apakah kita hidup didunia ini seperti kapas yang terbang oleh angin sama sekali tidak punya pilihan, atau kita bebas melakukan sesuatu keinginan kita tanpa Allah tahu apa yang kita lakukan. Inilah yang menjadi sumber permasalahannya.
Di Awal Muqoddimah kitab ini, Syekh Ramadhon al-Buthi memaparkan kelompok-kelompok ekstrimisme yang muncul karena semakin tersebar luasnya perdebatan-pendebatan panjang yang tak kunjung usai ini.
Pertama, Qodariyah
Kelompok yang di pelopori oleh salah seorang penduduk Bashrah yang bernama Ma’bad bin Kholid al-Juhani. Di awal kemunculannya, mereka menampakkan ideologi:
لا قدر و الأمر أنف أي يحدث طفرة دون سابق علم من الله
Tidak ada takdir dan semua yang terjadi, terjadi begitusaja tanpa sepengetahuan Allah sebelumnya. Semua yang terjadi merupkan hal yang baru dan tidak diintervensi oleh Allah SWT.
Kedua, Jabariyyah
Kelompok yang berpegang teguh dengan Ideologi:
أن الانسان مجبر في كل أحواله و شؤونه و أنهم أسير القضاء و القدر
Manusia dipaksa setiap keadaannya dan ia menjadi tawanan-Nya. Manusia tidak mampu apa-apa, ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak punya pilihan. Tuhan yang menciptakan segala perbuatan manusia. Dan adapun pelopor kelompok ini bernama Jahm bin Sofwan.
Ketiga, Mu’tazilah
Seiring berjalannya waktu, padamlah ideologi dua kelompok tersebut. Namun perdebatan seputar perkara Qodo dan Qodar masih terus berlanjut. Kemudian muncul lah kelompok Mu’tazilah -Kelompok pemuja akal- yang membantah dan menentang keras, karena ingin keluar dari permasalahan yang menurutnya, permasalahan ini merusak sifat adil Allah. Lewat ideologinya:
أن الانسان هو الخالق لأفعال نفسه الاختيارية
Manusia menciptkan perbuatannya sendiri yang bersifat pilihan. Oleh karena itu, manusia yang bertanggungjawab atas perbuatan yang ia ciptakan. Namun Menurut Syekh Romadhon al-Buthi pendapat demikian merupakan mendapat yang lemah.
Keempat, kelompok Sebagian Mutaakhirin yang berpura-pura, berlebihan, dan membesar-besarkan dalam menggambarkan masalah ini, dengan berpendapat:
أن الانسان مختار في الظاهر مجبور في الباطن
Ideologi-ideologi diatas terbantahkan setelah munculnya Imam Abu Hasan Ali bin Ismail al-Asy'ari (260-330 H) dan Imam Muhammad bin Muhammad Abu Manshur al-Maturidi (205-247H) dengan membawa kembali Mazhab Salaf, pemahaman-pemahaman para sahabat terdahulu.
Lantas seperti apa bantahan-bantahan tersebut?
InsyaAllah akan terjawab di episode berikutnya😁
0 Comments:
Posting Komentar