Pages

Banner 468 x 60px

 

Selasa, 21 November 2017

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 3) Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar: Qadha dan Qadar

0 Comments

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 3)
Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar: Qadha dan Qadar

Iman kepada Qadha dan Qadar Allah merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari hakikat Iman kepada Allah SWT. Diriwayatkan dari Sayyidina Umar ra, Rasulullah SAW bersabda:

"الايمان أن تؤمن بالله و ملائكته و كتبه و رسله و اليوم الآخر و بالقدر خيره و شره"

“Iman Adalah, engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan beriman kepada Takdir Allah yang baik dan yang buruk” (Al-Hadist).



Kewajiban beriman kepada sifat-sifat Allah mengharuskan kita beriman kepada Qadha dan Qadar Allah SWT. Banyak orang (dulu dan sekarang) melakukan kesalahan dalam memahami makna keduanya. Mereka memahami makna Qadha dan Qadar tidak sesuai dengan hakikat yang sebenarnya.

Mereka mengira bahwa Qadha adalah hukum Allah terhadap hamba-hamba-Nya sesuai dengan keinginan Allah, sehingga manusia tidak memiliki keinginan atau pilihan apapun. Hukum Allah meniadakan keinginan manusia tanpa menyisakan hak memilih bagi manusia.

Maka dengan pemahaman seperti ini, menjadi hal lumrah jika kita lihat kebanyakan manusia sangat mudah menyalahkan Allah apabila kejadian yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Pemahaman seperti ini adalah sebuah kesalahan besar karena tidak pernah seorangpun dari ulama Ahli sunah wal jamaah mendefinisikan Qadha seperti ini, bahkan tidak terdapat dalil nash yang menjelaskannya.

Sumber kesalahan itu bermula dari cara mereka memaknai makna Qadha secara  bahasa (baca: Qadha berarti ketetapan) sehingga mereka menduga bahwa makna seperti ini sesuai  dengan makna Qadha secara istilah. Dengan pemahaman seperti itu mereka memahami bahwa Qadha dapat menghilangkan kebebasan memilih dan keinginan mereka. Selalu menyalahkan Allah jika kejadiannya tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Lalu bagaimana makna yang benar antara Qadha dan Qadar?
Qadha adalah Pengetahuan Allah dimasa azali terhadap segala sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, dan diantaranya semua perbuatan manusia, baik yang bersifat pilihan maupun yang bersifat paksaan.

Sedangkan Qadar adalah terjadinya segala sesuatu secara nyata sesuai dengan pengetahuan Allah di masa azali.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitabnya; Fathul Mubin, Syarah Arbain Nawawiyah menyebutkan bahwa sayyidina Umar ra. mendefinisikan makna Qadha dengan pengetahuan Allah sebelum adanya sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Sedangkan Qadar adalah Keadaan yang terjadi sesuai dengan pengetahuan Allah.

Imam Nawawi berkata di dalam Syarah Shohih Muslimnya:
Banyak orang mengira bahwa makna Qadha dan Qadar adalah ijbarullah (Paksaan Allah) terhadap hamba-Nya. Namun kebenarannya bukan seperti yang mereka perkirakan. Karena sejatinya, makna Qadha adalah Pengetahuan Allah terhadap segala sesuatu yang akan dilakukan oleh  hamba-Nya.

Allah Memberikan manusia Irodah (keinginan) yang luas, potensi dan kekuatan sehingga manusia bisa memilih apa yang diinginkan. Kemudian ia melakukannya dengan memilih pilihan (ikhtiyar) yang di arahkan oleh dirinya sendiri. Ketika itu pula Allah menciptakan perbuatan itu sesuai dengan pilihan yang ia maksudkan.  Dan tidak di ragukan lagi, semua itu tercatat dalam ilmu Allah. Allah hanya mengetahui bukan memaksa. Dan ini lah yang dimaksud dengan Qadha.

Dari pengertian di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa kewajiban beriman kepada Qadha dan Qadar berarti kita wajib beriman kepada ilmu Allah SWT. terhadap semua yang akan terjadi di alam ini. Qadha tidak bersifat memaksa (Ijbar) seperti yang diduga oleh kebanyakaan. Qadha hanyalah Ilmu Allah terhadap apa yang sedang terjadi atau yang akan terjadi di alam semesta ini. Dan Ilmu yang selalu mengikuti apa yang di ketahui. Pengetahuan yang mengikuti kejadian yang akan terjadi, bukan sebaliknya.

Ilmu adalah sifat untuk mengungkap bukan sifat  yang memberikan pengaruh (Memaksa). Maka dari mana adanya sifat paksaan (Ijbar) melalui sifat ilmu Allah kepada manusia?

Mari sama-sama kita renungkan baik-baik…!


0 Comments:

Posting Komentar

 
Hikada Mesir © 2017