Pages

Banner 468 x 60px

 

Kamis, 07 Desember 2017

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 4) Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar; Korelasi antara Ilmu Allah dan keburukan yang terjadi di muka bumi ini.

0 Comments

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 4)
Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar; Korelasi antara Ilmu Allah dan keburukan yang terjadi di muka bumi.



Di kajian part 3 yang lalu kita telah mengetahui bahwa Qadha adalah pengetahuan Allah di masa azali terhadap segala sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Realita yang terjadi sekarang dan yang akan datang semuanya sudah tercatat dalam ilmu Allah SWT.

Dari pemahaman Qadha yang berarti ilmu Allah, muncul beberapa pertanyaan dan keraguan yang membuat Syekh Ramadhan Al-Buthi merasa perlu untuk menjawabnya.

Jika Qadha adalah ilmu Allah di masa azali, maka sudah otomatis Allah tahu segala tindakan dan perbuatan yang akan terjadi dimuka bumi ini. Maka, Allah tentu sudah tahu jika akan ada manusia dimuka bumi ini yang berbuat kerusakan, lantas untuk apa Allah menciptakan orang tersebut? sedangkan dengan sebab perbuatan tersebut Allah akan murka dan memberi azab kepadanya.

Potret Kerusakan Oleh Manusia


Di dalam kitab ini, Syekh Ramadhan Al-Buthi ra. menjawab pertanyaan di atas dengan dua jawaban.

Pertama. Allah menciptakan manusia dengan penuh kebebasan, bebas bertindak sebagaimana yang mereka inginkan. Ini merupakan sebuah perkara kebaikan dan nikmat yang amat luar biasa yang Allah berikan kepada manusia. Apabila manusia berkeinginan untuk melakukan keburukan untuk dirinya, maka keinginan yang buruk itu tidak akan dapat menghapus nilai-nilai nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, sedikitpun. Oleh karena itu, Allah tidak ikut serta pada perbuatan keburukan yang dilakukan.

Allah telah memberikannya dua nikmat; nikmat wujud ada di dunia dan nikmat hak memilih untuk melakukan. Maka, pemilik dua nikmat inilah yang bertanggung jawab atas keduanya. Keburukan atau kebaikan.

Kedua. Pemilik pertanyaan dan keraguan diatas membayangkan, seharusnya alam semesta yang Allah ciptakan kosong dari segala keburukan dan kerusakan. Semuanya di isi dengan kebaikan. Allah mengarahkan pilihan mereka kecuali  pada kebaikan yang bermanfaat untuk mereka dan orang lain.

Allah telah memuliakan manusia dengan adanya Taklif (baca:  pembebanan dengan melakukan atau meninggalkan atau pilihan dalam melakukan perbuatan tersebut). Karena sebabnya manusia layak untuk mendapatkan balasan sesuai yang ia pilih.  Balasan itu akan datang sesuai dengan apa yang ia pilih dan kerjakan.

Allah karuniakan manusia akal, hawa nafsu dan ilmu. Disiapkan juga kebenaran dan kebaikan sebagai pilihan. Dibukakan dihadapannya jalan untuk memenuhi hasrat hawa nafsunya juga jalan yang lain untuk memuaskan keinginan pada kebaikan dan kebenaran. Dengan demikian sempurnalah makna taklif yang di berikan oleh Allah sebagai kemuliaan bagi manusia.

Jika alam semesta  sesuai seperti yang mereka inginkan, maka hilanglah nilai yang terkandung pada hikmah penciptaan manusia di muka bumi ini dan juga akan hilang istilah pahala dan siksa. Toh yang ada hanya kebaikan semata. Maka untuk apa adanya surga dan neraka? Dan apa bedanya malaikat dengan manusia?


Sambil menuang seduan secangkir kopi hangat, mari kita renungkan sejenak.

0 Comments:

Posting Komentar

 
Hikada Mesir © 2017