(Kajian Berkala
Hikada Mesir Part 4)
Al-Insan Musayyar am
Mukhoyyar; Korelasi antara Ilmu Allah dan keburukan yang terjadi di muka bumi.
Di kajian part 3
yang lalu kita telah mengetahui bahwa Qadha adalah pengetahuan Allah di
masa azali terhadap segala sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Realita yang terjadi sekarang dan yang akan datang semuanya sudah tercatat
dalam ilmu Allah SWT.
Dari pemahaman Qadha
yang berarti ilmu Allah, muncul beberapa pertanyaan dan keraguan yang membuat
Syekh Ramadhan Al-Buthi merasa perlu untuk menjawabnya.
Jika Qadha adalah
ilmu Allah di masa azali, maka sudah otomatis Allah tahu segala tindakan dan
perbuatan yang akan terjadi dimuka bumi ini. Maka, Allah tentu sudah tahu jika akan
ada manusia dimuka bumi ini yang berbuat kerusakan, lantas untuk apa Allah
menciptakan orang tersebut? sedangkan dengan sebab perbuatan tersebut Allah
akan murka dan memberi azab kepadanya.
![]() |
| Potret Kerusakan Oleh Manusia |
Di dalam kitab ini,
Syekh Ramadhan Al-Buthi ra. menjawab pertanyaan di atas dengan dua jawaban.
Pertama. Allah menciptakan manusia dengan penuh kebebasan,
bebas bertindak sebagaimana yang mereka inginkan. Ini merupakan sebuah perkara
kebaikan dan nikmat yang amat luar biasa yang Allah berikan kepada manusia.
Apabila manusia berkeinginan untuk melakukan keburukan untuk dirinya, maka
keinginan yang buruk itu tidak akan dapat menghapus nilai-nilai nikmat yang
telah Allah berikan kepadanya, sedikitpun. Oleh karena itu, Allah tidak ikut
serta pada perbuatan keburukan yang dilakukan.
Allah telah
memberikannya dua nikmat; nikmat wujud ada di dunia dan nikmat hak memilih
untuk melakukan. Maka, pemilik dua nikmat inilah yang bertanggung jawab atas
keduanya. Keburukan atau kebaikan.
Kedua. Pemilik pertanyaan dan keraguan diatas membayangkan,
seharusnya alam semesta yang Allah ciptakan kosong dari segala keburukan dan
kerusakan. Semuanya di isi dengan kebaikan. Allah mengarahkan pilihan mereka kecuali pada kebaikan yang bermanfaat untuk mereka
dan orang lain.
Allah telah
memuliakan manusia dengan adanya Taklif (baca:
pembebanan dengan melakukan atau meninggalkan atau pilihan dalam
melakukan perbuatan tersebut). Karena sebabnya manusia layak untuk mendapatkan
balasan sesuai yang ia pilih. Balasan
itu akan datang sesuai dengan apa yang ia pilih dan kerjakan.
Allah karuniakan
manusia akal, hawa nafsu dan ilmu. Disiapkan juga kebenaran dan kebaikan
sebagai pilihan. Dibukakan dihadapannya jalan untuk memenuhi hasrat hawa nafsunya juga jalan yang lain untuk
memuaskan keinginan pada kebaikan dan kebenaran. Dengan demikian sempurnalah
makna taklif yang di berikan oleh Allah sebagai kemuliaan bagi manusia.
Jika alam
semesta sesuai seperti yang mereka
inginkan, maka hilanglah nilai yang terkandung pada hikmah penciptaan manusia
di muka bumi ini dan juga akan hilang istilah pahala dan siksa. Toh yang ada
hanya kebaikan semata. Maka untuk apa adanya surga dan neraka? Dan apa bedanya
malaikat dengan manusia?
Sambil
menuang seduan secangkir kopi hangat, mari kita renungkan sejenak.

0 Comments:
Posting Komentar