Pages

Banner 468 x 60px

 

Rabu, 29 April 2020

Tentang Puasa: Syarat Wajib, Sah, Rukun dan Yang Membatalkan Puasa

0 Comments

Tentang Puasa: Syarat Wajib, Sah, Rukun dan Yang Membatalkan Puasa


Segala Puji bagi Allah Swt. yang telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang mulai dan agung. Agungnya bulan Ramadhan karena setiap perbuatan kecil yang dikerjakan bernilai besar di mata Allah Swt. Perbuatan hamba menjadi berlipat-lipat ganda karena kemuliaannya. Terlebih, di bulan Ramadhan umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan Ibadah wajib tahunan selama satu bulan penuh.

Seperti ibadah lainnya, Puasa seorang hamba dianggap sempurna apabila telah memenuhi syarat-syarat dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Syarat puasa adalah syarat yang harus dipenuhi sebelum mengerjakan puasa. Ia merupakan hal-hal yang menjadi penentu keabsahan puasa, namun bukan dari bagian puasa itu sendiri. Dalam hal puasa, banyak kitab mengkatagorikan pembagiannya menjadi dua: yang pertama syarat wajib dan yang ke dua syarat sahnya puasa.

Di bawah ini adalah syarat wajib dan sahnya puasa yang diambil dari kitab Nailu ar-raja bi as-syarhi safinati an-naja’ karangan as-Sayyid Ahmad bin Umar As-Syatiri.

Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib puasa adalah syarat yang menyebabkan seseorang dihukumi wajib untuk melaksanakan puasa. Adapun syarat wajib puasa terdiri dari:
1. Berstatus muslim, tidak diwajibkan bagi orang kafir
2. Seseorang yang sudah berkewajiban menjalankan ibadah puasa, seperti baligh dan berakal
3. Mampu Menjalankan Ibadah Puasa
4.  Sehat
5. Menetap, bukan yang dalam keadaan berpergian (musafir)

Apabila seseorang telah memenuhi syarat yang di atas, maka ia telah diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa.


Syarat Sah Puasa

Syarat sah puasa adalah syarat yang menyebabkan ibadah puasa menjadi sah secara hukum syara’. Adapun syarat  sah puasa terdiri dari:
1. Beragama Islam, ,maka tidak sah puasa non muslim.
2. Berakal, bukan dalam keadaan gila.
3. Suci dari haid dan nifas.
4. Mengetahui bahwa di hari itu dia diperbolehkan untuk berpuasa atau bukan berpuasa di hari yang dilarang.


Rukun Puasa

Rukun Puasa ada tiga:
1. Niat pada malam hari setiap melaksanakan ibadah puasa fardu.
2. Meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa
3. Orang yang berpuasa


Yang Membatalkan Puasa:

Puasa menjadi batal dengan sebab salah satu di bawah ini:
1. Murtad (keluar dari agama Islam) walau sebentar
2. Haid
3. Nifas
4. Gila
5. Pingsan atau mabuk (HIlang Akal)
6. Masuknya barang atau benda ke rongga tubuh dengan sengaja
7. Muntah dengan sengaja
8. Keluar sperma dengan sengaja
9. Besetubuh

Read more...

Selasa, 28 April 2020

Tentang Puasa: Definisi dan Sejarah Disyariatkannya Puasa Ramadhan

0 Comments

Tentang Puasa: Definisi dan Sejarah Disyariatkannya Puasa Ramadhan


Definisi Puasa

Puasa secara etimologi berarti menahan. Setiap bentuk menahan diri dan diam disebut Puasa. Allah Swt. Berfirman:

إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيًّا

"Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini". (Q.S. Maryam: 26)

Secara terminologi pandangan Syariat (istilah), puasa adalah menahan diri dari hal-hal tertentu (yang membatalkan puasa), di masa tertentu (misal: Ramadhan) dan orang tertentu.

Sejarat Disyariatkannya Puasa Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan  atas seluruh umat muslim untuk menjalankan ibadah puasa. Pada dasarnya pensyariatan wajib berpuasa hanya pada bulan Ramadhan saja, tidak pada selainnya. ini yang menjadi kesepakatan para ulama. 


Sebelum Allah Swt. wahyukan Nabi Muhammad Saw. berupa ayat tentang perintah wajib puasa Ramadhan, Nabi bersama sahabat terlebih dahulu berpuasa Tiga hari setiap bulan atau yang sering kita sebut dengan puasa ayyamul bidh dan dengan ditambah satu hari puasa di bulan Asyura’. Kendati sudah turun ayat al-Baqoroh;183 tentang puasa pun, hukumnya masih sebatas wajib bagi siapa yang menghendakinya saja dan bagi yang tidak, boleh dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin), semuanya atas dasar pilihan. Namun setelah boleh memilih, kemudian turun ayat berikutnya yang menegaskan bahwa semua kaum Muslim wajib berpuasa di bulan Ramadan kecuali bagi yang tidak mampu atau ada udzur syar’i dan itu pun harus diganti pada hari yang lain. Ayat tersebut adalah ayat 185 dari surat al-Baqarah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Puasa Ramadhan diwajibkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijriah dengan cara dan praktik yang dilakukan umat Islam hingga kini.


Referensi : Fikih Shiyam, Cet. Maktabah Daar al-Basyair al-Islamiyah, Syekh Muhammad Hasan Hitu


Read more...

Senin, 27 April 2020

Zikir dan Doa Setelah Shalat Witir

0 Comments

Zikir dan Doa Setelah Shalat Witir



Shalat Witir adalah ibadah shalat yang didirikan antara shalat isya hingga menjelang fajar sebagai penutup shalat malam. Sesuai maknanya, dinamakan witir karna jumlah rakaat yang dikerjakannya berupa bilangan rakaat ganjil; satu rakaat, tiga rakaat atau bahkan lebih. Maka witir tidak boleh dikerjakan dengan bilangan genap. Meskipun witir boleh didirikan dengan jumlah minimal hanya satu rakaat saja, akan tetapi yang utama dilakukan 3 rakaat Shalat witir, kemudian tujuh rakaat, lalu Sembilan rakaatn dan yang paling sempurna dengan jumlah maksimal adlah sebelas rakaat. hukumnya sunnah muaakad. Rasulullah Saw. bersabda:

 يَا أَهْلَ الْقُرْءَانِ أًوْتِرُوْا فَإِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ" (رواه أبو داود وصححه الترمذي)"

“Wahai para ahli al-Qur’an, Dirikanlah sholat witir karena Allah itu ganjil dan menyukai orang-orang yang mendirikan sholat ganjil (witir).

Zikir Setelah Shalat Witir

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسُ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَعْبُوْدِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْمَوْجُوْدِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْحَيِّ الْقَيُوْم الَّذِيْ لأَ يَنَامُ وَ لاَ يَمُوْتُ أَبَدًا. سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الْمَلآئِكَةِ وَالرُّوْحِ (٣ مَرَّاتٍ) سُبْحَانَ اللهْ وَالْحَمْدُ لِلهْ وَلآ اِلَهَ اِلَّا اللهْ وَاللهُ اَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (٣ مَرَّاتٍ) أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ (لأَ إِلَهَ إِلأَّ اللهُ  ٣ مَرَّاتٍ ) لأَ إِلَهَ إِلأَّ اللهُ ٧٠ مَرَّاتٍ
مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَلِمَةُ حَقٍّ عَلَيْهَا نَحْيَ وَ عَلَيْهَا نَمُوْتُ وَ عَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ الآمِنِيْنَ بِرَحْمَةِ اللهِ وَ إِكْرَامَهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


Doa Setelah Shalat Witir 

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا مُتَقَبَّلًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا،وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ دَوَامَ الْعَافِيَةِ،  وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وقعودنا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَسْبِيْحَنَا وَتَهْلِيْلَنَا وَقِرَائَتَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَي الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
 

ۚ

Read more...

Minggu, 26 April 2020

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tarawih, Bacaan Bilal Serta Jawabannya dan Doa Setelah Shalat Tarawih (Kamilin)

0 Comments

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tarawih, Bacaan Bilal Serta Jawabannya dan Doa Setelah Shalat Tarawih (Kamilin)


Shalat Tarawih adalah shalat yang dikerjakan pada bulan suci Ramadhan setelah shalat isya sebelum shalat witir. Kedatangannya ditunggu-tunggu oleh umat Islam. Ia merupakan salah satu ibadah sunnah unggulan bulan Ramadhan yang ramai dikerjakan oleh banyak muslimin. Selain hukumnya sunnah muakkadah (yang dianjurkan), shalat tarawih diunggulkan karena memiliki keutaman-keutaman khusus di bulan Ramadhan. Sabda Rasulullah Saw.:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari & Muslim).

Menurut jumhur ulama  (4 Madzhab) sholat tarawih terdiri dari 20 Rakaat tanpa witir. Apabila dengan witir maka 23 Rakaat (20+3). Berikut ini adalah Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tarawih, Bacaan Bilal dan jawabannya dan Doa setelah shalat Tarawih. 


Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tarawih.

Pada dasarnya, peraktik shalat tarawih tidak berbeda dengan dengan shalat-shalat sunnah lainnya. Kecuali ia dikerjakan pada bulan Ramadhan setelah shalat Isya’. Tak ada perbedaan dalam rukun-rukunya.. Keharusan membaca surat-surat tertentu setelah al-Fatihah pun tidak ada. Orang yang shalat tarawih diperbolehkan membaca surat dan ayat apa saja, meskipun surat dan ayat-ayat yang panjang lebih utama. Sebagian ulama merekomendasikan surat-surat tertentu untuk dibaca. Hanya saja, yang membedakan adalah cara yang dipakainya dalam menyelenggarakan salat tarawih tersebut, apakah memakai sistem 4 rakaat satu salam atau 2 rakaat satu salam.
Bacaan Bilal dan Jawabannya





Doa Setelah Shalat Tarawih (Kamilin)

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ. وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Artinya, “Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. 

Referensi; Kitab Dalail at-Thullab, Cet. Ke 5, Pon-Pes Daarul Falah


Read more...

Senin, 20 Agustus 2018

Eid al-Adha Mubarok

0 Comments

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

تتقدم أسرة خريجي دار الفلاح بجمهورية مصر العربية
بخالص التهاني و أطيب التمنيات
بمناسبة حلول عيد الأضحي المبارك
داعين المولي عز و جل أن يعيده عليكم بالخير و اليمن و البركة

عيدكم سعيد مبارك
كل عام و أنتم بالخير
Read more...

Senin, 25 Juni 2018

Peresmian Daarul Falah 2

0 Comments



قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
"Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Segenap Anggota Himpunan Keluarga Alumni Daarul Falah (HIKADA) Cabang Mesir turut berbahagia atas diresmikannya Pondok Pesantren Daarul Falah 2 Maliku - Kalimantan Tengah, Sabtu 30 Juni 2018.

Selamat & Sukses 
Read more...

Rabu, 13 Juni 2018

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H

0 Comments
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H


Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd Dengan takbir dan tahmid kita melepas Ramadhan yang telah menempa hati, mengasuh jiwa serta mengasah nalar. Dengan takbir dan tahmid kita melepas bulan yang suci dengan hati yang penuh harap, dengan jiwa kuat penuh optimis. Dengan hati yang terbuka, dengan dada yang lapang, dengan muka yang jernih, serta dengan tangan yang terulurkan. Marilah kita saling memaafkan, sambil mengibarkan bendera as-Salam bendera kedamaian di seluruh penjuru dunia Himpuinan Keluarga Alumni Daarul Falah (HIKADA) Cabang Mesir mengucapkan: "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H" Taqobbalallahu Minna wa Minkum Mohon Maaf lahir dan Batin Kullu aa'm wa Antum bi Khoirin
Kairo, 15 Juni 2018
Read more...

Minggu, 13 Mei 2018

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1439 H / 2018 M

0 Comments


Segenap Anggota Himpunan Keluarga Alumni Daarul Falah (HIKADA) Cabang Mesir Mengucapkan:

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1439 H / 2018 M

Mari Kita Manfaatkan Bulan yang Penuh Berkah ini dengan Sebaik-Baiknya, agar Kelak Kita Menjadi Orang yang Benar-Benar Mendapatkan Keberuntungan. Amin yarobbal alamiin.

Marhaban ya Ramadhan
Marhaban Syahru Shiyam
Taqobbalallahu Minna wa Minkum
Kullu 'aam wa Antum Bi Khoirin

Kairo, Senin 14 Mei 2018
Read more...

Rabu, 09 Mei 2018

Wisuda Angkatan Dua Puluh Tujuh Pon-Pes Daarul Falah

0 Comments
Wisuda Angkatan 027

Bagi santri, Haflah Takhorruj merupakan salah satu momen special yang akan dikenang sepanjang perjalanan hidupnya. Wajar, karena untuk berada pada puncak tersebut perlu melalui proses panjang. Mulai dari harus menghadapi kegiatan belajar selama enam tahun, menghadapi Ujian Nasional (UN), amaliyah tadris sampai kepada menjalankan ujian akhir dengan materi pelajaran dari kelas satu tsanawiyah sampai tiga aliyah.

Setelah melalui beberapa tahapan proses, maka Haflah Takhorruj adalah pencapaian tinggi yang membanggakan bagi mereka. Senang itu wajar-wajar saja. Namun, mereka tidak boleh terlena dengan eufora wisuda. Karena wisuda bukanlah akhir dari sebuah perjalanan belajar, ia akan menjadi awal bagi perjalanan berikutnya. Ketika akhir sebuah perjalanan akan menjadi awal perjalanan yang lain, maka mereka akan bertemu dengan sesuatu yang baru. 

Hari kelulusan adalah menifestasi dari apa yang telah mereka lakukan. Setelahnya, mereka adalah penentu berdasarkan apa yang telah mereka dapatkan.

Dengan mengharap ridha Allah SWT, semoga para alumni dapat menjadi tauladan untuk generasi selanjutnya agar lebih baik lagi dalam menuntut ilmu serta sebagai wasilah untuk dapat meneruskan estafet para ulama. Amin yaa Robbal Alamin.

“Jangan pernah malu melakukan hal sekecil apapun ketika kamu keluar dari pondok nanti selagi itu banyak diambil manfaat oleh orang banyak”. Pesan Pimpinan Pon-pes Daarul Falah.

Selamat dan Sukses atas diwisudanya santriwan dan santriwati angkatan Dua Puluh Tujuh Pondok Pesantren Daarul Falah, Carenang-Kopo.


Kairo, Jum'at 11 Mei 2018

Read more...

Selasa, 24 April 2018

Selamat Menempuh Ujian Termin 2 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir

0 Comments
Selamat dan Sukses

Himpunan Keluarga Alumni Daarul Falah (HIKADA) Mesir Mengucapkan:

"Selamat Menempuh Ujian Termin 2 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir"


Semoga Allah SWT mudahkan segala perkara yang berkaitan dengan ujian serta mendapatkan hasil  yang memuaskan. Amin ya robbal aalamin.


"Sebesar itu usahamu, sebesar itu pula hasil yang kamu dapatkan." (Drs. KH. Ahmad Khudlori, M.M., Mpd.)


Read more...

Senin, 05 Februari 2018

Selamat Ulang Tahun Abi

0 Comments
Selamat Ulang Tahun Abi

Hari ini,  senin 05 Februari 2018 bertepatan dengan hari kelahiran Pimpinan Pon-Pes Daarul Falah sekaligus orang tua kami (Baca: Alumni Daarul Falah) Drs. KH. Ahmad Khudlori,. MM. M.Pd.

قال الحبيب زين بن سميط آبَاؤُكَ ثَلاَثَةٌ: أَبُوْكَ الَّذِي وَلَدَكَ، وَالَّذِي زَوَّجَكَ إِبْنَتَهُ، وَالَّذِي عَلَّمَكَ،
وَهُوَ أَفْضَلُهُمْ. (المنهج السوي، ص 218)
Habib Zein bin Sumait mengutip sebuah ungkapan yang artinya “Bapakmu itu ada tiga. satu, bapak yang menyebabkan kelahiranmu. Dua, mertuamu. Tiga, gurumu. Dia yang paling mulia.” (Al-Manhaj al-Sawi,hal. 218).

Dalam segala hal, beliau adalah pelopor pendidikan kami. Dengan sikap yang tegas, bijaksana namun ramah telah mengajarkan kami banyak arti hidup dan menghidupkan.

Dengan mengharap Ridho dan Barokahnya, asa terucap doa; semoga Allah SWT senantiasa panjangkan umurnya, Allah mudahkan segala urusan dunia dan akhiratnya, Allah istiqomahkan langkah beliau dalam berdakwah di jalan-Mu, serta Allah limpahkan cucuran rahmatnya. Amin yarobbal alamin.

Selamat ulang tahun Abi❤

Read more...

Sabtu, 13 Januari 2018

Selamat & Sukses Pengajian Bulanan dan Turnamen Futsal HIKADA Cup 2018

0 Comments


Selamat dan Sukses

Diantara tujuan dari berbagai kegiatan HIKADA adalah sebagai wadah pererat silaturahim dengan Kiyai dan jajaran Dewan guru khususnya, serta seluruh alumni pada umumnya. 

Dengan demikian, HIKADA mengadakan kembali Majelis pengajian bulanan sebagai bekal perjalanan intelektual, spiritual dan refleksi hubungan batin antar mua'llim dan muta'allim.

Kali ini nampak sedikit berbeda, dengan mengusung tema "Menumbuhkembangkan Solidaritas dan Soliditas bukan Rivalitas", Himpunan Keluarga Alumni Daarul Falah (HIKADA) menyelenggarakan juga Turnamen Futsal HIKADA Cup 2018 yang akan dilaksanakan di Ponpes Daarul Falah Carenang-Kopo pada tanggal  21 Januari & 27 - 28 Januari 2018.

Segenap HIKADA cabang Mesir mengucapkan Selamat dan Sukses, semoga dengan di selenggarakannya pengajian bulanan sekaligus turnamen ini dapat tercipta jalinan silaturahim, komunikasi, kerjasama yang baik sehingga menciptakan kesatuan yang positif demi kemajuan HIKADA bersama. Amin yarobbalalamin.
Read more...

Senin, 18 Desember 2017

Ujian Untuk Belajar, Bukan Belajar Untuk Ujian

0 Comments

Selamat Menempuh Ujian


“ Ujian Untuk Belajar, Bukan Belajar Untuk Ujian” 


Sebut saja itu pepatah. Pepatah masyhur yang muncul dari kearifan dunia pendidkan pesantren. Untaian kalimat yang selalu terucap oleh Pak Kyiai setiap kali menyampaikan Mauidzoh Hasanah menjelang ujian, baik ujian semester pertama maupun semester akhir.


Sebuah kalimat yang memberikan kesadaran mengenai urgensitas ujian dalam proses belajar sehingga seseorang dapat merefleksikan diri dan menyadari kekurangan dan kelemahannya, yang pada akhirnya dapat memacu tingkatan kualitas diri dalam belajar.


Belajar bukan (hanya) untuk ujian, tapi ujian adalah bagian dari proses belajar. Semoga dengan adanya momen ujian untuk belajar, dapat memberikan pengaruh terhadap pemahaman yang lebih mendalam.


Sebagai untaian doa’, terucap; “Selamat menempuh ujian termin 1, khususnya untuk rekan-rekan Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam memahami, menghafal, dan menjawab materi kuliah yang akan di ujikan. Amin ya robbal aalamin.





Read more...

Jumat, 15 Desember 2017

Selamat dan Sukses Wisudawan/i Hikada Cabang Serang UIN SMH Banten

0 Comments
Selamat dan Sukses

تعلم فليس المرء يولد عالما
” Belajarlah, karena seseorang itu tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu ”

Setiap dari kita tidak terlahir dalam keadaan al-'Alim. Ilmu tidak diberikan begitu saja. Karna itu, penyematan sifat ini merupakan penghargaan yang amat luar biasa, di tambah al-'Alim merupakan salah satu Asma'ul Husna milik Allah SWT.

Seorang al-Alim terus menerus dalam lingkaran al-'Ilmu dan al-Ma'lum. Pengetahuan yang sudah kita ketahui adalah al-Ma'lum. Sedangkan dengan apa kita mengetahui itu adalah al-'Ilmu. Prof. DR. M. Quraish Shihab pernah bertutur bahwa kata al-'Ilmu disebutkan dalam al-Qur'an sebanyak 854 kali. Hal ini menggambarkan urgensitas menuntut ilmu.

Untaian doa’ untuk rekan-rekan wisudawan dan wisudawati Hikada Cabang Serang Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten yang hari ini akan diwisuda “Selamat dan Sukses, Semoga Ilmu-ilmu yang didapatkan di bangku kuliah dapat teraktualisasikan di kehidupan nyata dan bermanfaat untuk masyarakat pada umumnya”.

Kairo-Mesir
Sabtu, 16 Desember 2017

Read more...

Senin, 11 Desember 2017

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 5) Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar; Perbuatan buruk (فعل القبيح) dan penciptaan keburukan (خلق القببح)

0 Comments

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 5)
Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar; Perbuatan buruk (فعل القبيح) dan penciptaan keburukan (خلق القبيح)

Sejauh akal fikiran, perasaan-perasaan, dan Ilmu pengetahuan sebagai potensi, ia adalah anugerah yang diciptakan Allah untuk manusia. Anugerah ini sebagai bekal untuk menjalani hidup. Juga sebagai ukuran atas tindakan yang akan dilakukan oleh manusia. Ini semua adalah potensi yang relevan terhadap pilihan yang akan manusia pilih sendiri. kebaikan atau keburukan. Jika nilai-nilai kebaikan dan perbaikan terbuka, maka itu terjadi berkat usaha dan upaya  manusia itu sendiri. Dan jika muncul api kerusakan dan keburukan, maka itu juga terjadi akibat tindakan dan buruknya manusia.

Sesuai dengan Firman Allah SWT:

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

”Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya : 35)

Setiap bermacam-macam keburukan yang kita lihat dari manusia adalah keburukan yang dibuat oleh manusia dan buruknya manusia dalam mengoptimalkan potensi yang sudah allah anugerahkan, bukan dari perbuatan Allah SWT. Tidak ada kolerasi sangkut paut antara keburukan yang terjadi dan Allah SWT. Sebagai mana yang telah ditetapkan oleh Ahlul Haq (baca: Ahli sunah wal Jamaah).

Ahlul Haq mengatakan, bahwa Allah SWT adalah yang menciptakan keburukan (خلق القبيح), namun bukan yang melakukan keburukan (فعل القبيح). Karena terdapat perbedaan yang sangat jelas antara keduanya.

Perbuatan buruk (فعل القبيح) adalah  sesuatu yang bercampur dengan sesuatu yang buruk, sedangkan Allah di jauhkan dari yang yg demikian. Dan adapun penciptaan keburukan (خلق القبيح) adalah sesuatu yang terdapat pada potensi-potensi yang telah Allah anugerahi yang karenanya dapat terjadi kebaikan dan keburukan. Artinya, yang menciptakan kebaikan dan keburukan adalah Allah SWT.

Sebagai contoh. Seseorang yang kreatif, inovatif, atau mahir dalam bidang seni. Yang menciptakan karya seni, seperti lukisan, patung, seni peran, seni tari, sastra, film dan musik. Atau yang sering kita sebut dengan seniman. Ketika ia membuat sebuah lukisan yang jelek, maka orang yang melukisnya tidak terlibat dengan kejelekan tersebut. Akan tetapi, yang jelek adalah lukisan yang seniman itu buat. Karena boleh jadi lukisan yang ia buat namun jelek itu justru menunjukkan kesempurnaan dan keterampilan sang seniman.

ٍSambil menikmati tuangan kopi hangat. Menarik untuk sejenak kita perbincangkan. 

Read more...

Jumat, 08 Desember 2017

Ziarah Makam Waliyullah dan Penutupan Kegiatan Kajian Berkala Hikada Mesir

0 Comments
Masjid Sayyid Uqbah bin Amir

Hikada Mesir - Pada hari Jumat (08/12) pukul 09.30–16.00 Clt. Hikada cabang Mesir adakan Ziarah Makam Waliyullah sekaligus penutupan salah satu kegiatan rutin mingguan kajian berkala kitab karangan Syekh Sa’id Ramadhan Al-Buthi Ra., “Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar” guna persiapan menghadapi ujian termin 1 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Berbeda dari biasanya, kegiatan kali ini diadakan berbarengan dengan acara Ziarah IKAPPI (Ikatan Alumni Pondok Pesantren Ibadurrahman) dengan tujuan mempererat silaturahim emosional antar alumni.  Ziarah berlangsung dengan khidmat dan tenang, lewat pembacaan Hadharat (hadiah bacaan) ala Pesantren Daarul Falah.

Ziarah kali ini memiliki serangkaian destinasi diantaranya: Makam Imam Waqi’ bin Al-Jarrah, Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i atau yang sering kita kenal dengan Imam Syafi’i, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani pengarang kitab Fath Al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari, Makam sahabat Rasulullah SAW Uqbah bin Amir, Imam Al-Laits bin Saad, dan di akhiri dengan ziarah makam Imam Jalaluddin As-Suyuthi pengarang kitab Tafsir Jalalain yang dikarang bersama Imam Jalaluddin Al-Mahalli.

“Melihat semakin dekatnya ujian Al-Azhar, baik dhahir (external) maupun bhatin (internal) harus kita sucikan agar diri kita mudah menerima cahaya Allah SWT. Berziarah, tawassul ke makam waliyullah dan alhul bait Rasulullah SAW. merupakan salah satu caranya. Namun harus tetap dibarengi dengan semangat berusaha belajar semaksimal mungkin. Semoga mahasiswa Al-Azhar pada umumnya dan rekan-rekan Hikada yang berdomisili di Mesir pada khususnya, dapat menjawab soal dengan mudah dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Sukses usaha, ikhtiyar, dan doa…!! Aamiin yaa Robbal alamin” Tutur Ust. Aliyudin selaku pemimpin ziarah.

Setelah usai ziarah rekan-rekan Hikada melakukan makan bersama, makanan khas lidah Nusantara.😊
Read more...

Kamis, 07 Desember 2017

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 4) Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar; Korelasi antara Ilmu Allah dan keburukan yang terjadi di muka bumi ini.

0 Comments

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 4)
Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar; Korelasi antara Ilmu Allah dan keburukan yang terjadi di muka bumi.



Di kajian part 3 yang lalu kita telah mengetahui bahwa Qadha adalah pengetahuan Allah di masa azali terhadap segala sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Realita yang terjadi sekarang dan yang akan datang semuanya sudah tercatat dalam ilmu Allah SWT.

Dari pemahaman Qadha yang berarti ilmu Allah, muncul beberapa pertanyaan dan keraguan yang membuat Syekh Ramadhan Al-Buthi merasa perlu untuk menjawabnya.

Jika Qadha adalah ilmu Allah di masa azali, maka sudah otomatis Allah tahu segala tindakan dan perbuatan yang akan terjadi dimuka bumi ini. Maka, Allah tentu sudah tahu jika akan ada manusia dimuka bumi ini yang berbuat kerusakan, lantas untuk apa Allah menciptakan orang tersebut? sedangkan dengan sebab perbuatan tersebut Allah akan murka dan memberi azab kepadanya.

Potret Kerusakan Oleh Manusia


Di dalam kitab ini, Syekh Ramadhan Al-Buthi ra. menjawab pertanyaan di atas dengan dua jawaban.

Pertama. Allah menciptakan manusia dengan penuh kebebasan, bebas bertindak sebagaimana yang mereka inginkan. Ini merupakan sebuah perkara kebaikan dan nikmat yang amat luar biasa yang Allah berikan kepada manusia. Apabila manusia berkeinginan untuk melakukan keburukan untuk dirinya, maka keinginan yang buruk itu tidak akan dapat menghapus nilai-nilai nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, sedikitpun. Oleh karena itu, Allah tidak ikut serta pada perbuatan keburukan yang dilakukan.

Allah telah memberikannya dua nikmat; nikmat wujud ada di dunia dan nikmat hak memilih untuk melakukan. Maka, pemilik dua nikmat inilah yang bertanggung jawab atas keduanya. Keburukan atau kebaikan.

Kedua. Pemilik pertanyaan dan keraguan diatas membayangkan, seharusnya alam semesta yang Allah ciptakan kosong dari segala keburukan dan kerusakan. Semuanya di isi dengan kebaikan. Allah mengarahkan pilihan mereka kecuali  pada kebaikan yang bermanfaat untuk mereka dan orang lain.

Allah telah memuliakan manusia dengan adanya Taklif (baca:  pembebanan dengan melakukan atau meninggalkan atau pilihan dalam melakukan perbuatan tersebut). Karena sebabnya manusia layak untuk mendapatkan balasan sesuai yang ia pilih.  Balasan itu akan datang sesuai dengan apa yang ia pilih dan kerjakan.

Allah karuniakan manusia akal, hawa nafsu dan ilmu. Disiapkan juga kebenaran dan kebaikan sebagai pilihan. Dibukakan dihadapannya jalan untuk memenuhi hasrat hawa nafsunya juga jalan yang lain untuk memuaskan keinginan pada kebaikan dan kebenaran. Dengan demikian sempurnalah makna taklif yang di berikan oleh Allah sebagai kemuliaan bagi manusia.

Jika alam semesta  sesuai seperti yang mereka inginkan, maka hilanglah nilai yang terkandung pada hikmah penciptaan manusia di muka bumi ini dan juga akan hilang istilah pahala dan siksa. Toh yang ada hanya kebaikan semata. Maka untuk apa adanya surga dan neraka? Dan apa bedanya malaikat dengan manusia?


Sambil menuang seduan secangkir kopi hangat, mari kita renungkan sejenak.
Read more...

Selasa, 21 November 2017

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 3) Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar: Qadha dan Qadar

0 Comments

(Kajian Berkala Hikada Mesir Part 3)
Al-Insan Musayyar am Mukhoyyar: Qadha dan Qadar

Iman kepada Qadha dan Qadar Allah merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari hakikat Iman kepada Allah SWT. Diriwayatkan dari Sayyidina Umar ra, Rasulullah SAW bersabda:

"الايمان أن تؤمن بالله و ملائكته و كتبه و رسله و اليوم الآخر و بالقدر خيره و شره"

“Iman Adalah, engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhir, dan beriman kepada Takdir Allah yang baik dan yang buruk” (Al-Hadist).



Kewajiban beriman kepada sifat-sifat Allah mengharuskan kita beriman kepada Qadha dan Qadar Allah SWT. Banyak orang (dulu dan sekarang) melakukan kesalahan dalam memahami makna keduanya. Mereka memahami makna Qadha dan Qadar tidak sesuai dengan hakikat yang sebenarnya.

Mereka mengira bahwa Qadha adalah hukum Allah terhadap hamba-hamba-Nya sesuai dengan keinginan Allah, sehingga manusia tidak memiliki keinginan atau pilihan apapun. Hukum Allah meniadakan keinginan manusia tanpa menyisakan hak memilih bagi manusia.

Maka dengan pemahaman seperti ini, menjadi hal lumrah jika kita lihat kebanyakan manusia sangat mudah menyalahkan Allah apabila kejadian yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Pemahaman seperti ini adalah sebuah kesalahan besar karena tidak pernah seorangpun dari ulama Ahli sunah wal jamaah mendefinisikan Qadha seperti ini, bahkan tidak terdapat dalil nash yang menjelaskannya.

Sumber kesalahan itu bermula dari cara mereka memaknai makna Qadha secara  bahasa (baca: Qadha berarti ketetapan) sehingga mereka menduga bahwa makna seperti ini sesuai  dengan makna Qadha secara istilah. Dengan pemahaman seperti itu mereka memahami bahwa Qadha dapat menghilangkan kebebasan memilih dan keinginan mereka. Selalu menyalahkan Allah jika kejadiannya tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Lalu bagaimana makna yang benar antara Qadha dan Qadar?
Qadha adalah Pengetahuan Allah dimasa azali terhadap segala sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang, dan diantaranya semua perbuatan manusia, baik yang bersifat pilihan maupun yang bersifat paksaan.

Sedangkan Qadar adalah terjadinya segala sesuatu secara nyata sesuai dengan pengetahuan Allah di masa azali.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitabnya; Fathul Mubin, Syarah Arbain Nawawiyah menyebutkan bahwa sayyidina Umar ra. mendefinisikan makna Qadha dengan pengetahuan Allah sebelum adanya sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Sedangkan Qadar adalah Keadaan yang terjadi sesuai dengan pengetahuan Allah.

Imam Nawawi berkata di dalam Syarah Shohih Muslimnya:
Banyak orang mengira bahwa makna Qadha dan Qadar adalah ijbarullah (Paksaan Allah) terhadap hamba-Nya. Namun kebenarannya bukan seperti yang mereka perkirakan. Karena sejatinya, makna Qadha adalah Pengetahuan Allah terhadap segala sesuatu yang akan dilakukan oleh  hamba-Nya.

Allah Memberikan manusia Irodah (keinginan) yang luas, potensi dan kekuatan sehingga manusia bisa memilih apa yang diinginkan. Kemudian ia melakukannya dengan memilih pilihan (ikhtiyar) yang di arahkan oleh dirinya sendiri. Ketika itu pula Allah menciptakan perbuatan itu sesuai dengan pilihan yang ia maksudkan.  Dan tidak di ragukan lagi, semua itu tercatat dalam ilmu Allah. Allah hanya mengetahui bukan memaksa. Dan ini lah yang dimaksud dengan Qadha.

Dari pengertian di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa kewajiban beriman kepada Qadha dan Qadar berarti kita wajib beriman kepada ilmu Allah SWT. terhadap semua yang akan terjadi di alam ini. Qadha tidak bersifat memaksa (Ijbar) seperti yang diduga oleh kebanyakaan. Qadha hanyalah Ilmu Allah terhadap apa yang sedang terjadi atau yang akan terjadi di alam semesta ini. Dan Ilmu yang selalu mengikuti apa yang di ketahui. Pengetahuan yang mengikuti kejadian yang akan terjadi, bukan sebaliknya.

Ilmu adalah sifat untuk mengungkap bukan sifat  yang memberikan pengaruh (Memaksa). Maka dari mana adanya sifat paksaan (Ijbar) melalui sifat ilmu Allah kepada manusia?

Mari sama-sama kita renungkan baik-baik…!


Read more...
 
Hikada Mesir © 2017